Aku pun mengayuh perahu percintaan mengarungi lorong-lorong
ombak waktu yang tak terukur dengannya hingga pantai kebahaagian pun
telah tampak di depan mataku, akan tetapi belum sempat aku menapakkan
kaki keyakinanku di pantai itu, tiba-tiba tiupan angin pertentangan
menggoyahkan perahu percintaanku yang kemudian menenggelamkannya. Di
saat itulah bayangan hidupku berpindah ke perahu yang lain dan
membiarkanku mati tergulung ombak derita. Dia pergi dengan beribu tawa
dan tak ingin lagi menengokku yang akhirnya menjadikanku sebuah bangkai
demi kebahagiaannya.
Sesungguhnya pada saat aku berlayar dengan
bayangan hidupku, begitu banyak hati yang mengapung dan berharap ku
pungut dari lautan kesendirian. Beberapa diantaranya pun kusentuh dengan
sisa-sisa tangan perasaan serta mencoba mengobati hati yang mengapung
itu karena goresan pisau cinta yang tak mampu mengering. Dari kedalam
jiwa kembaran hatiku pun mengamuk pada langit karena merasa cintaku
untuknya telah mencair dan meluap menuju lubang-lubang hati yang lain.
Kayu perahu cintanya pun mulai rapuh di resapi air-air cemburu, yang
lama-kelamaan akan melubangi perahu kami. Aku pun mencoba memperbaiki
perahu itu dengan segenap kayu-kayu jiwaku yang patah, sembari berharap
bahwa aku masih bisa berlayar melintasi samudra waktu dan menggapai
pantai kebahagiaan dengannya.
Tiba-tiba dari ujung lautan
percintaan, badai perpisahan pun datang menerbangkan perahuku ke
ketinggian langit yang kemudian menjatuhkan perahu itu hingga termakan
lautan dan menenggelamkannya di dasar kegelapan. Dan yang tak
kusangka-sangka sebelumnya ternyata kekasihku masih mampu terselamatkan
oleh angin godaan yang membuatnya berpindah ke perahu rasa yang lain.
Lihat
diriku hancur karena kembaran hatiku. Dahulu dia selalu memeluk tubuhku
dan menangis di dadaku saat angin derita mencambuk jiwanya. Kini
dibalik setiap senyumanku, aku mencoba menyembunyikan tangisan piluku.
Di tawa kebahagiaanku sesungguhnya begitu banyak denyut kekosongan. Dia
mengiris-iris hatiku dengan tusukan jarum-jarum kenangan yang tak mampu
terlepas dari dinding pikiranku. Walau hatiku tercabik-cabik tetapi aku
masih mencoba untuk hidup di hadapan kematian, karena aku menyakini
bahwa angin kelupaan akan menghapus jejak kaki perasaannya dalam salju
pikiranku.
Begitu lama aku tak bernafas saat tenggelam di lautan
derita yang dalam dan hampir saja air-air kematian mencekik nyawaku saat
kurasa takkan ada lagi darah-darah perasaan yang akan mendetakkan
hatiku dan mendetikkan jam kehidupanku. Dia tega memukul wajahku dengan
airmata hingga bengkak.
Air kebangkitan pun terus mengaliri
sungai-sungai kekosongan. Salah satu hati yang mengapung itu kini
ternyata mampu berlari menelusuri lorong-lorong hati yang gelap dan
mampu terbang untuk mengangkatku dari kegelapan menuju cahaya. Hati
terapung itu pun kini mencoba menjadi pelampung kehidupanku hingga
setiap butiran-butiran perasaanku pun meneteskan namanya di tanah
jiwaku.
Setiap pagi aku mencoba meneteskan sebuah embun kerinduan
di tanah hatinya karena mungkin sesungguhnya hati terapung itu adalah
bayangan jiwaku di kehidupan. Mungkin dia adalah cerminan hidupku yang
abadi di alam waktu. Suatu saat bila cintaku masih berdetak, itu karena
dialah denyutnya. Jika aku masih bisa merasakan hidup, itu karena dialah
nafasnya. Jika aku masih mampu bergerak itu karena dialah darah yang
menggerakkanku.
Wajah langit telah menjatuhkan bintang perasaan
di bumi hatiku yang selamanya akan terbenam di lautan jiwaku. Jangan
pernah melangkah dari perasaanku, karena malam akan menelan siang dan
wajahku akan menjadi danau airmata jika dia pergi. Dia telah meracuniku
dengan perasaannya dan membunuhku dengan keindahannya. Jika jam waktuku
di dinding kehidupan telah habis dan mungkin wujudku tak terlihat lagi
oleh mata-mata, yakinlah cintaku masih akan terasa selalu menemani
setiap detak jantung kehidupannya dan detik setiap langkah waktunya,
Karena angin selalu meniupkan pesona dirinya ke dalam mata, hati,
pikiran dan jiwaku.
Lompatan waktu yang secepat cahaya mungkin
akan menjadikan kisah ini mejadi sebuah dongeng yang akan terus mengalir
hingga angin kelupaan pun akan menghapus kisah ini dari catatan waktu.
< August, 03-08-09 >
Original Created By : Revan